Mantan Pj Kades Sei Tarolat Diduga Mark Up Anggaran Pembelian Kambing

LABUHANBATU,MajuNews – Mantan Pj Kepala Desa Sei Tarolat, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Limswiking Pandiangan SH, diduga kuat memark-up anggaran pembelian kambing sebanyak 24 ekor.

Adanya indikasi dugaan mark up yang dilakukan mantan Pj Kades Sei Tarolat itu, kondisi kambing yang dibeli masih kecil. Selain masih kambing anak, kambing gembel yang dibeli diduga kambing sakit.

Biaya pembelian kambing sebanyak 24 ekor tersebut senilai Rp 64 juta, diambil dari biaya ketahanan pangan bersumber dari dana desa (DD) tahun anggaran 2022.

Informasi yang dihimpun dari Kiki selaku bendahara Desa Sei Tarolat, kambing yang dibeli sebanyak 24 ekor terdiri dari 8 jantan 16 ekor betina.

Disoal dari mana kambing itu dibeli, Kiki mengaku tidak tahu menahu dari mana kambing itu dibeli.

“Mantan Pj yang tahu itu bang dari mana kambing itu dibeli, karena dia yang belanja sendiri kambing itu,” jawab Kiki.

Selain untuk pembelian kambing, lanjut Kiki, dana ketahanan pangan 20 persen dari besaran Dana Desa digunakan untuk pembelian bibit padi dan biaya bimtek.

Mantan Pj Kepala Desa Sei Tarolat Limswiking Pandiangan SH, dikonfirmasi via WhatsApp messenger App, Rabu (22/02/2023), mengaku kambing itu dibeli sebanyak 24 ekor.

“MET siang bang,sesuai permohonan kelompok Tani bang, ada 2 kelompok, jumlahnya 24 ekor semua, satu kelompok 12ekor. Pokoknya kami pesan sesuai prosedur melalui CV. Maaf bang saya lagi ujian di Medan,” balas Limswiking.

Disoal, bahwasannya ada 3 ekor kambing yang mati karena diduga kambing yang dibeli kambing pesakitan, Limswiking mengaku kambing waktu diserahkan dalam keadaan sehat.

“Waktu diserahkan kambingnya sehat semua bang, karna pesan saya sama pengurusnya supaya mereka bisa memelihara dan jadi contoh kedepannya dan menggulirkan ke kelompok berikutnya karna saya bukan kades mereka lagi,” balas Limswiking kembali.

Disinggung kepada kelompok tani apa diserahkan kambing tersebut, Limswiking tidak berkenan menjelaskannya.

Ditanya hingga dua kali berapa harga perekornya atau berapa total harga keseluruhannya, darimana kambing dibeli, Limswiking juga tidak berkenan memberikan penjelasan.

Hasil investigasi di lapangan, keterangan Limswiking dengan Rojali mantan Kades Sei Tarolat juga sebagai ketua kelompok penerima kambing bertolak belakang.

Menurut Rojali, ia tidak ada mengajukan permohonan untuk mendapatkan kambing, tetapi ia mengaku ditemui Limswiking dan ditawari kambing.

“Bapak mau kambing, ya maulah,” ungkap Rojali menirukan ucapan Limswiking.

Setelah ditawari kambing, lanjutnya, kambing itu diantar kepadanya sebanyak 12 ekor terdiri dari 2 ekor jantan 10 ekor betina.

“Kambingnya kambing gembel, sekira 2 bulan lalu kambing itu diserahkan kepada kami. Kambingnya kambing gembel dan kecil – kecil. Itu pun kami suntik karena kurang sehat,” terang Rojali.

Saat menjelang tahun baru, tambahnya, sebanyak 3 ekor kambing betina itu sakit, namun yang 1 ekor sempat dipotongnya sedangkan yang 2 ekor lagi mati.

“Waktu dipotong dagingnya pun paling dapat cuma 4 kilogram, ya namanya juga kambing kecil. Ya sedikit – sedikitlah kita bagi bagi dagingnya,” imbuh Rojali kembali.

Ditanya, kelompok tani mana lagi dan apa nama kelompok tani yang menerima 12 ekor lagi kambing tersebut, Rojali mengaku tidak tahu.

“Kalau itu saya tidak tahu, Limswiking yang tahu itu,”sebutnya singkat.

Anehnya lagi, Rojali penerima kambing itu mengaku sebagai ketua kelompok tani, tetapi saat ditanya apa nama kelompok taninya, Rojali mengaku lupa nama kelompok taninya.

“Apa ya namanya? Lupa aku nama kelompok taniku,” katanya seakan berkilah.




Laporan : Rahmat
Editor : Redaksi

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *