Audiensi ke Kemendikdasmen, Wabup Muzamil Perjuangkan Peningkatan Mutu dan Pemerataan Akses Pendidikan di Meranti

MERANTI,MajuNews – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti terus memperkuat komitmen peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, turun langsung menggelar audiensi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah guna memperjuangkan dukungan program dan anggaran bagi perbaikan mutu serta pemerataan akses pendidikan di daerah kepulauan tersebut. Pertemuan berlangsung di Gedung E Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kamis (12/2/2026).

Dalam audiensi itu, Muzamil memaparkan secara komprehensif berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi dunia pendidikan di Meranti. Mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana, kondisi gedung sekolah yang membutuhkan rehabilitasi, kekurangan ruang kelas, hingga minimnya fasilitas pendukung pembelajaran.

Selain infrastruktur, ia juga menekankan pentingnya penguatan kualitas tenaga pendidik serta pemerataan distribusi guru, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau terluar yang memiliki tantangan geografis cukup berat.

Menurut Muzamil, pendidikan dasar menjadi fondasi utama pembangunan daerah sehingga harus mendapat perhatian prioritas.

“Sekolah dasar di wilayah terpencil menjadi konsen utama kami. Minat anak untuk bersekolah harus dijaga sejak dini. Karena itu, akses dan fasilitas pendidikan dasar wajib tersedia secara merata dan layak,” ujar Muzamil.

Ia mengungkapkan, masih tingginya angka anak tidak sekolah menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi. Berdasarkan data daerah, angka anak tidak sekolah mencapai 11,75 persen pada kelompok usia 13–15 tahun dan hampir 27 persen pada usia 16–18 tahun.

“Kami datang membawa langsung aspirasi masyarakat Meranti. Angka ini menjadi alarm bagi kami. Jangan sampai anak-anak kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan akses dan fasilitas pendidikan. Ini yang sedang kami perjuangkan di kementerian,” tegasnya.

Kondisi sarana pendidikan juga dinilai memengaruhi kualitas proses belajar mengajar. Tercatat sekitar 10,43 persen ruang kelas dalam kondisi rusak berat. Fasilitas sanitasi pun belum memadai, dengan 23 persen toilet sekolah mengalami kerusakan berat.(Infotorial)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *